Rabu, 21 Agustus 2013

BAHASA BALI BUKAN BAHASA FEODAL


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Bahasa Bali merupakan Bahasa Ibu yang digunakan sebagai alat komunikasi oleh semua masyarakat Bali dalam setiap aktivitas baik secara langsung maupun tidak langsung termasuk pula dalam kegiatan agama Hindu yang dianut sebagian besar masyarakat Bali.
Bahasa bali merupakan bukti historis bagi masyarakat bali. Sehubungan dengan itu, bahasa sebagai salah satu bagian dari kebudayaan bali dan sekaligus pula berkedudukan sebagai wahana ekspresi budaya bali yang di dalamnya terekam pengalaman estetika, religi, social , politik dan aspek-aspek lainnya dalam kehidupan masyarakat bali. Bahasa bali yang merupakan sebuah system kebahasaan dan budaya yang berfungsi sebagai akar pelestari kebudayaan Bali, tidak seyogyanya tergusur oleh sistematika bahasa nasional ataupun bahasa asing dan bahkan bahasa lain daerah. Dengan kata lain bahasa bali yang merupakan fitur kebudayaan dunia harus dapat berkembang secara mandiri dan berkelanjutan, sehingga dapat merespon perubahan yang sedang dan yang akan terjadi.
Pada jamanya Bali Kuno atau Bali Mula tidak mengenal adanya sor singgih. Namun semenjak kedatangan Majapahit yang membawa pengaruh yang sangat kuat di Bali terutama dalam bahasa dimana ada percampuran antara bahasa bali kuna dan bahasa jawa kuna yang menghasilkan bahasa Bali Alus. Keberadaan bahasa Bali Alus ini memiliki variasi yang cukup rumit karena adanya sor singgih yang ditentukan oleh pembicara, lawan bicara, dan hal-hal yang dibicarakan. Secara umum, variasi bahasa Bali memberikan indikasi kesejarahan dan perkembangan bahasanya meski dalam arti yang sangat terbatas. Secara temporal bahasa Bali dibedakan atas bahasa bali kuno yang sering disebut dengan bahasa Bali Mula atau Bali aga, bahasa Bali tengahan atau kawi Bali,dan bahasa Bali kepara yang sering disebut Bali Baru atau Bahasa bali Modern.
Bahasa Bali kuno adalah bahasa Bali yang belum kena pengaruh bahasa lain yang digunakan unutk menulis prasasti-prasasti. Bahasa Bali tengahan adalah bahasa campuran antara bahasa sansekerta, bahasa Jawa kuna atau bahasa kawi, bahasa Jawa tengahan dan bahasa Bali yang umum pada masa ini, bahasa Jawa tengahan digunakan untuk menuliskan prasasti, sejarah, filsafat, pengobatan, keagamaan dan sastra. Bahasa Bali Baru atau Anyar merupakan bahasa Bali yang masih hidup dan dipakai dalam konteks komunikasi lisan dan tulis bagi masyarakat Bali sampai sekarang.
Dalam penerapannya, bahasa bali lebih sering digunakan dalam dibidang sosiolinguistik bahasa bali yang lebih menekankan pada penggunaan bahasa berdasarkan objek penelitian antara hubungan bahasa yang digunakan dengan faktor-faktor social dalam masyarakat hindu di bali yang mengenal system kasta (warna) / kelas penggolongan masyarakat itu sendiri. Bahasa bali merupakan bukti historis bagi masyarakat bali. Sehubungan dengan itu, bahasa sebagai salah satu bagian dari kebudayaan bali dan sekaligus pula berkedudukan sebagai wahana ekspresi budaya bali yang di dalamnya terekam pengalaman estetika, religi, social , politik dan aspek-aspek lainnya dalam kehidupan masyarakat bali. Bahasa bali yang merupakan sebuah system kebahasaan dan budaya yang berfungsi sebagai akar pelestari kebudayaan Bali, tidak seyogyanya tergusur oleh sistematika bahasa nasional ataupun bahasa asing dan bahkan bahasa lain daerah. Dengan kata lain bahasa bali yang merupakan fitur kebudayaan dunia harus dapat berkembang secara mandiri dan berkelanjutan, sehingga dapat merespon perubahan yang sedang dan yang akan terjadi.
Dari pemaparan diatas tentang pengertian bahasa Bali maka bahasa Bali jauh dari kaitannya dengan bahasa feodal yang sifatnya menyeluruh digunakan tanpa ada tingkatan.


1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas kami dapat menarik suatu masalah yakni:
1.      Pengertian dari bahasa Bali?
2.      Pengertian bahasa feodal?
3.      Kenapa Bahasa Bali bukanlah Bahasa Feodal?

1.3  Tujuan
Agar pembaca makalah ini mengetahui dan memahami apa arti Bahasa Bali, arti Bahasa feodal dan agar pembaca mengetahui dan paham kalau Bahasa Bali itu bukanlah Bahasa Feodal. Sehingga pembaca tidak salah paham akan hubungan bahasa Bali dengan Bahasa feudal.

1.4  Manfaat
      Agar mahasiswa dapat menginterpretasikan bahasa bali yang bukanlah sebagai bahasa feodal. Dengan mengetahui dan memahami bahasa bali bukanlah bahasa feodal, para pembaca dapat merealisasikan isi makalah ini dalam kehidupan



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian  Bahasa Bali
Bahasa Bali berasal dari kata “Bal” dalam bahasa Sansekerta yang artinya “kekuatan”, jadi kata “Bali” berarti “pengorbanan” yang berarti supaya kita tidak melupakan kekuatan kita. Supaya kita selalu siap untuk berkorban. Sebagai bahasa, bahasa Bali merupakan bahasa warisan budaya Bali yang sangat penting yang harus dilestarian dan dikembangkan. Hal ini hendaknya menjdai kewajiban seluruh generasi manusia Bali untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya, serta mentransformasikan  dalam  konteks tuntutan perkembangan zaman.
Bahasa Bali adalah salah satu bahasa daerah di negara Indonesia yang dipeliahara dengan baik oleh masyarakat penuturnya, yaitu etnis Bali. Bahasa  Bali  merupakan bahasa ibu atau bahasa pertama bagi sebagian besar masyarakat Bali, dipakai secara luas sebagai alat komunikasi dalam berbagai aktivitas kehidupan sosial masyarakat Bali. oleh karena itu, bahasa Bali merupakan pendukung kebudayaan Bali yang tetap hidup dan berkembang di Bali. Dilihat dari jumlah penuturnya, bahasa Bali didukung oleh lebih kurang setengah juta jiwa dan memiliki tradisi tulis sehingga bahasa Bali termasuk bahasa daerah besar diantara beberapa bahasa daerah di Indonesia.
Bahasa bali merupakan suatu ilmu tata wicara / berbicara (bahasa daerah) yang memiliki systematika baik dari segi penlafalan dan aksara (mempunyai system syllabic) sebagai alat komunikasi bagi masyarakat bali pada khususnya. Dalam penerapannya, bahasa bali lebih sering digunakan dalam dibidang sosiolinguistik bahasa bali yang lebih menekankan pada penggunaan bahasa berdasarkan objek penelitian antara hubungan bahasa yang digunakan dengan faktor-faktor social dalam masyarakat hindu di bali yang mengenal system kasta (warna) / kelas penggolongan masyarakat itu sendiri.
            Pada bahasa bali atau keterampilan berbicara (kepewaraan) dengan menggunakan bahasa bali yang harus diperhatikan adalah kaidah-kaidah yang menyangkut aturan dalam berbicara dengan menggunakan bahasa bali tersebut. Dalam artian, tidak semena-mena dalam menggunakan bahasa bali sebagai sarana komunikasi baik dengan siapa yang menjadi lawan bicara pada konteksnya agar memiliki kaidah yang patut / baik, benar dan sesuai dengan penggunaannya dalam kehidupan.
              Peradaban masyarakat bali, sejak dari dulu hingga sekarang yang pada umumnya selalu menggunakan bahasa daerahnya sebagai sarana komunikasi yaitu bahasa bali. Jika ditinjau dari segi historis , bahasa bali mengenal tiga periodisasi yaitu :
1.      Bahasa Bali Kuna adalah bahasa bali yang dipakai sebagai alat komunikasi pada zaman raja-raja Bali kuna sebagaimana ditemukannya prasasti-prasasti bali kuna baik itu lontar yang berisikan huruf / bahasa jawa kuna.
2.      Bahasa Bali tengahan , adalah bahasa bali yang dipakai untuk menuliskan karya-karya sastra seperti kidung-kidung, babad, wariga, usada, usana, niti dan sebagainya.
3.      Bahasa Bali Kepara atau Bahasa Bali Lumrah , adalah bahasa Bali yang masih hidup sampai sekarang yang dipakai sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, untuk mengadakan suatu interaksi dengan lawan bicaranya. Bahasa bali periode yang terakhir, jika dilihat dalam pemakaiannya memiliki system tingkatan-tingkatan yang dalam bahasa itu disebut dengan Sor-Singgih Basa Bali .
            Masyarakat bali , dalam etika pergaulannya selalu dilandasi dengan sonpan santun, yang terpola dalam bingkai “ manyama braya” ini sebagai membentuk karakter dan pola pikir termasuk sikap mental orang bali, sehingga dalam berkomunikasi pun akan selalu memilih dan memilah ketika dihadapi suatu konteks / keadaan yang merujuk pada situasi saat memakai tingakatan-tingkatan Bahasa bali yang bertujuan untuk menyesuaikan dan ketepatan / kecakapan berbicara dengan identitas / status lawan bicaranya. Setiap komunikasi dalam pergaulan, tata karma dapat dipastikan ada didalamnya. Dalam hal ini tata karma dalam pergaulan sangat diperlukan dengan adanya etika dan kesopansantunan berbahsa. Antara tata karma dan bahasa dalam pergaulan hidup bermasyarakat, keduanya tidak dapat dipisahkan, ibarat benang yang dijalin menghasilakn suatu tenunan yang utuh.
            Dalam penggunaan Sor-Singgh Bahasa Bali dalam kehidupan bermasyarakat orang Bali, menurut kamus bahasa Indonesia yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Dasar Provinsi Bali menguraikan bahwa kata Sor berarti bawah, singgih berarti halus atau hormat. Sor-Singgih. Jadi Sor-Singgih Basa Bali berarti aturan tentang tingkat-tingkatan atau tinggi rendah yang menyangkut rasa / perasaan yang merujuk pada rasa solidaritas dengan saling hormat menghormati dalam menggunakan bahasa Bali terhadap lawan bicara. Berikut adalah pembagian terhadap tingkatan-tingkatan bahasa bali menurut Sor-Singgihnya yang terdiri dari :
1.        Basa Kasar ,Kasar Pisan/ Kasar Jabag
2.        Basa Andap
3.        Basa Madia
4.        Basa Alus, Alus Sor, Alus Mider, dan Alus Singgih
5.        Basa Mider
·         Pembahasan Basa Kasar
Basa kasar adalah tingkatan bahasa bali yang memiliki rasa bahasa paling bawah. Basa kasar dibedakan menjadi 2 yaitu : basa kasar pisan dan basa kasar jabag.
Basa kasar pisan adalah bahasa bali yang didalam penggunaannya tergolong tidak sopan dan tidak memiliki nilai etika moral, sehingga menimbulkan konotasi/ kesan yang buruk bagi penyimaknya. Bagi mereka yang terkena perkataan / bahasa ini bias mendapat “leteh” yang harus dibersihkan dengan melakukan penyucian diri (prayasita) bagi mereka yang termasuk catur wangsa.
Contoh :
-          “Cicing iba, ngenken iba mai ngleklek !”
-          “Anjing kamu, mau apa kamu kesini !”
-          “Iba bungut dogen, tegarang suud mapeta !”
-          “kamu bicara saja, sudahi pembicaraan !”
·         Pembahasan Basa Kasar Jabag
Basa Kasar Jabag adalah Bahasa Bali yang dalam penggunaannya tidak sesuai dengan situasi pembicaraan. Artinya, kata-kata dalam bahasa itu tidak mengindahkan tingkat-tingkatan yang ada dalam bahasa bali  yang kadang kala melampaui etika pembicaraan. Biasanya cenderung dipakai pada suatu konteks yang merujuk pada keadaan keakraban, kelebihan dan keangkuhan sang pembicara dengan lawan bicaranya.
Contoh  :
-          “I Bapa pules di bale asagane”
-          “Ayah tidur di tempat peristirahatan”
-          “Gusti ngurah mara teka, suba ke ngabe gapgapan?”
-          “Gusti ngurah baru dating,  sudahkah membawa oleh-oleh?”
·         Pembahasan Basa Andap
Basa Andap adalah tingkatan bahasa bali yang digunakan dalam suasana bersahaja ( dalam pergaulan akrab dan memiliki nilai kesopanan). Sehingga sering disebut dengan istilah basa kasar sopan / basa lumrah dipakai dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat / kapara. Bahasa ini sering digunakan pada masyarakat hindu di bali yang memiliki wangsa jaba. Disini, bahasa bali sebagai bahasa sopan, digunakan apabila konteks bergaulnya memiliki sikap keakraban / kekeluargaan yang terjalin erat, misalnya sesama wangsa. Sama kedudukannya , sama umur, sama pendidikan, sama jabatan, kawan sederajat dan merupakan bahasa kekeluargaan.
Contoh  :
-          Percakapan antar wangsa ksatriya        :          
-          “Beli Gus De, dija kejang jajane tuni, Mbok Dayu be kenyel pisan ngalihin”
-          “Kak Gus De, dimana menaruh kue, Kak Dayu sudah letih sekali mencarinya”
·         Pembahasan Basa Madia
Basa Madia adalah tingkatan bahasa bali yang tergolong menengah, yang nilai rasa bahasanya berada diantara bahasa bali andap dan bahasa bali alus. Artinya bahwa konotasi bahasa madia tidak kasar, dan juga tidak halus, karena itulah sering juga disebut dengan bahasa antara ( tidak halus dan juga tidak kasar). Basa Madia itu digunakan apa bila wangsa atau status sosialnya dalam masyarakat lebih tinggi berbicara dengan wangsa yang status sosialnya lebih rendah, tetapi lebih tua atau lebih disegani yang mendududki suatu jabatan tertentu dalam masyarakat / adat misalnya “ klian banjar dinas/ adat” maupun pejabat / instansi pemerintahan atau swasta, dalam situasi percakapan tersebut tentunya akan menggunakan Basa Madia.
Contoh  :
-          Ampunang irika negak, ten tepukin tiang
“Jangan duduk disana, saya tidak melihatmu”
-          “Mara suud ngajeng, suba nagih mepamit
“Baru saja selesai makan, sudah mau pergi”.

·         Pembahasan Basa Alus
Basa Alus adalah sebagai tingkatan bahasa bali yang mempunyai nilai rasa bahasa yang tinggi atau sangat hormat, biasanya bahasa ini digunakan dalam situasi resmi ( seperti rapat , pertemuan, seminar, percakapan adat agama dll). Pembagian basa alus terdiri dari :
·         Basa Alus Sor
Adalah tingkatan bahasa Bali alus atau hormat yang mengenai diri sendiri atau digunakan untuk merendahkan diri sendiri dan juga untuk orang lain / objek yang dibicarakan yang patut direndahkan / bias juga karena status sosialnya yang dianggap lebih rendah dari orang yang diajak bicara.
Contoh  :          
-            Titiang jagi grereh pakaryan sane patut anggen pangupa jiwa
  Saya ingin mencari pekerjaan yang    sesuai untuk pemenuhan hidup
·         Basa Alus Mider
Adalah tingkatan bahasa Bali alus atau hormat yang memiliki nilai rasa tinggi atau sangat hormat yang dapat digunakan untuk golongan bawah dan juga untuk golongan atas. Basa alus mider adalah bahasa bali alus dwi fungsi, bias masuk dalam basa bali alus singgih dan juga bias masuk dalam basa bali alus sor. Contoh         :
-          Ipun makta asiki, ida makta kekalih”
“Ia membawa satu, beliau membawa dua”

·         Basa Alus Singgih
Adalah tingkatan bahasa bali alus atau hormat yang hanya dapat digunakan oleh pembicara untuk menghormati atau memuliakan orang yang patut dihormati atau dimuliakan.
Contoh  :
-          “ I Ratu kayun ngrayunang ulam bawi?”
-          Ratu, yening wenten karya ring geria, nikain titiang”         

·         Pembahasan Basa Mider
Adalah kata-kata dalam bahasa bali yang tidak memiliki tingkatan-tingkatan rasa bahasa, sehingga bahasa ini dapat digunakan untuk dan kepada siapa saja. Selain itu dalam pemakaiannya tidak terikat dengan status social dalam masyarakat, situasi / kondisi pembicaraan. Contoh : (kata sifat) nyongkok, kija, ke kantor (tempat), televisi/ radio (kata benda),
Itulah tingkatan-tingkatan bahasa bali yang digunakan dalam kehidupan bermasyarakat di bali pada umumnya.

         Dikatakan Model Bahasa seperti itu digunakan karena itulah ciri khas yang dimiliki oleh masyarakat bali yang menggunakan bahasa bali sebagai bahasa daerah yang memiliki system penlafalan yang unik, dengan penggunaan bahasa yang dapat ditinjau dari segi sosiolinguistik yang lebih menitik beratkan pada fungsi penggunaan bahasa dalam pergaulan / kehidupan bermasyarakat, religi, politik dan keagamaan, serta memiliki system syllabic yang unik dengan penlafalan satu huruf bali melambangkan satu suku kata dalam penggunaan dari aksara dari bahasa bali itu sendiri. Perlu diketahui, Bahasa Bali yang merupakan bahasa ibu, akan tetap hidup dan lestari apabila semasih unsur kebudayaan spiritual hindu masih tetap eksis di bali, karena yang lebih mendukung dalam usaha pelestarian bahasa bali ini adalah para generasi muda hindu yang akan menjadi cikal-bakal penerus kebudayaan yang diwariskan dari jaman-ke jaman. Karena yang paling kental dan melekat dalam penggunaan bahasa bali ini adalah salah satunya banyak ditemukan dalam upacara ritual keagamaan khususnya hindu “Mabebaosan”atau “Pewarah” serta sekaligus penggunaan aksara / huruf bahasa bali pada upakara “ ulap-ulap” serta aksara “Kajang” yang digunakan pada ritual hindu pada upacara Ngaben (Pitra Yadnya) dan pada saat upacara Catur Yadnya , saat rapat / Sabha / Paum desa pakraman / adat .
            Dalam kehidupan bermasyarakat, seluruh masyarakat yang tinggal di bali , wajib mengetahui dan mempunyai  keterampilan berbahasa bali, karena hal itu merupakan warisan kebudayaan dari jaman-ke jaman. System penggunaan bahasa bali itu sendiri harus selalu memperhatikan tingkatan-tingkatan basa bali sesuai dengan konteks/ situasi dan kondisi dalam berkomunikasi / berinteraksi dengan lawan bicara kita, agar sesuai dengan kaidah-kaidah , tata etika, dan memiliki nilai moralitas yang tinggi dalam pergaulan di kehidupan sehari-hari.  Penggunaan basa Sor-Singgih Bali itu yang harus diperhatikan adalah adanya pembagian Catur Wangsa yang ada di Bali. Wangsa disini dapat diartikan sebagai pembagian golongan masyarakat berdasarkan kelahirannya. Jadi yang dimaksud Catur Wangsa / Warna adalah empat golongan yang terdapat pada masyarakat hindu di Bali. Pembagian Catur Wangsa itu terdiri dari      :
1.      Wangsa Brahmana : Wangsa yang paling dihormati dan biasanya jika ditinjau dari kelahirannya, mempunyai kedudukan tinggi sebagai guru yang memberikan pencerahan kerohanian / suci kepada para wangsa lainnya. Biasanya bahasa yang digunakan adalah bahasa alus singgih.
2.      Wangsa Ksatriya : Wangsa yang dihormati dan biasanya jika ditinjau dari kelahirannya, mempunyai kedudukan sebagai seorang pemimpin / kepemerintahan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa alus sor, dan basa alus mider, basa madia.
3.      Wangsa Wesia : Dalam Wangsa ini , jika ditinjau dari segi kelahirannya, mempunyai kedudukan dalam bidang “pertukangan” / ulet melaksanakan pekerjaan sesuai dengan profesi yang digelutinya (pande). Bahasa yang digunakan biasanya basa alus sor, basa andap, basa madia, dan basa kasar jabag
4.      Wangsa Sudra : Wangsa ini merupakan wangsa terakhir dalam penggolongan Catur Wangsa. Jika ditinjau dari segi kelahirannya, mempunyai kedudukan dalam bidang keniagaan/ kewirausahaan “dagang” yang melakukan aktifitas jual beli sebagai mata pencaharian dalam kehidupan bermasyarakat. Bahasa yang digunakan , basa madia, basa andap, basa kasar jabag .
            Itulah system pembagian dalam penggunaan Bahasa Bali ditinjau dari penggolongan warna/ wangsa yang ada di dalam masyarakat hindu di Bali menurut kelahiran pada umunya.
            Terjadinya penggunaan Bahasa yang memakai system pembedaan kelas / warna (wangsa) dalam masyarakat hindu di bali adalah merupakan suatu warisan dari leluhur yang dilihat dari segi kelahirannya terdahulu. Pada ummunya masyarakat dengan penggolongan warna/ wangsa di bali hidup rukun dan harmonis dengan saling menjunjung rasa kekeluargaan, saling hormat-menghormati dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaindah-kaidah yang menyangkut tata etika susila dalam pergaulan bermasyarakat. Selain itu dalam masyarakat hindu di Bali selalu berpedoman pada tiga kerangka dasar agama hindu yaitu filsafat, etika dan upakara dalam pelaksaan kehidupan bermasyarakat, ritual keagamaan, dan bersosial. Selain itu penggunaan bahasa yang memakai system pembedaan kelas masyarakat selalu memperhatikan pedoman “Desa Kala Patra” yang artinya penggunaan bahasa yang sebagai keterampilan berbicara harus sesuai dengan tempat/ situasi kondisi lingkungan dalam konteks pembicaraan (desa), waktu (kala) sesuai dengan topic pembicaraan terkini dibicarakan, dan (patra) menganut fungsi / pembicaraan yang kita sampaikan memiliki daya guna yang tepat ,padat dan berisi yang dapat dijadikan sebagai pedoman / direalisasikan / mempunyai daya interpretasi bagi penyimaknya yang sebagai lawan pembicara.


2.2 Arti  Kata Feodal
            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kata Fe·o·dal /féodal/ ada tiga definisi mengenai kata tersebut yaitu :
1.      Berhubungan dengan susunan masyarakat yang dikuasai oleh kaum bangsawan
2.      Mengenai kaum bangsawan (tentang sikap, cara hidup, dsb)
3.      Mengenai cara pemilikan tanah pada abad pertengahan di Eropa
           Jika ditinjau dari segi paham Feodalisme mempunyai arti sistem politik dan militer antara seorang bangsawan feodal (bangsawan atau Paduka), dan pengikut-Nya. Feodalisme berkembang dari abad kesembilan hingga abad kelima belas. Dalam pengertian yang paling klasik, feodalisme mengacu pada sistem politik Abad Pertengahan Eropa terdiri dari seperangkat kewajiban hukum dan militer timbal balik antara bangsawan prajurit, bergulir di sekitar tiga konsep kunci dari tuhan, pengikut, dan para tuan.
            Istilah feodalisme sendiri dipakai sejak abad ke-17 dan oleh pelakunya sendiri tidak pernah dipakai. Semenjak tahun 1960-an, para sejarawan memperluas penggunaan istilah ini dengan memasukkan pula aspek kehidupan sosial para pekerja lahan di lahan yang dikuasai oleh tuan tanah, sehingga muncul istilah "masyarakat feodal". Karena penggunaan istilah feodalisme semakin lama semakin berkonotasi negatif, oleh para pengkritiknya istilah ini sekarang dianggap tidak membantu memperjelas keadaan dan dianjurkan untuk tidak dipakai tanpa kualifikasi yang jelas.
            Dalam penggunaan bahasa sehari-hari di Indonesia, kata feodal ini mengalami pergeseran makna secara peyoratif dimana seringkali digunakan untuk merujuk pada perilaku-perilaku negatif yang mirip dengan perilaku para penguasa yang lalim, seperti 'kolot', 'selalu ingin dihormati', atau 'bertahan pada nilai-nilai lama yang sudah banyak ditinggalkan'. Arti ini sudah banyak melenceng dari pengertian politiknya.

2.3       Bahasa Bali bukanlah bahasa feodal
            Jika berbicara mengenai eksistensi penggunaan bahasa yang memiliki tingkatan ini pada era masa kini , sungguh suatu permasalahan yang pelik bagi masyarakat bali pada umumnya. Apalagi di era Globalisasi ini, banyak sekali beberapa pengaruh yang masuk dalam kehidupan masyarakat bali, baik dari segi kebudayaan, berbahasa, seni, dan sastra yang berkembang pesat sehingga menjadi suatu pencampuran alkulturasi didalamnya. Pada hal, penggunaan Bahasa Bali dengan memperhatikan Sor-Singgih Basa Bali ini mencerminkan identitas dan status social diantara mereka sebagai pembicara dan lawan biacara. Dan sekaligus berfungsi sebagai sarana edukasi dalam melatih manusia, khususnya kaum muda hindu bali, memperhatikan situasi social, dan saling menghormati serta memupuk kerendahan hati yakni kejujuran terhadap adanya perbedaan social masyarakat.
            Tetapi terkadang tidak sesuai dengan apa yang menjadi keinginan para pengguna bahasa bali di dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat sekarang cenderung mengatakan bahwa orang yang menggunakan bahasa bali dengan memperhatikan sor singgih basa bali terutama pada seorang pembicara / pewarah yang menyampaikan suatu informasi kepada kaum brahmana atau kaum bangsawan dianggap Bahasa Bali itu sebagai bahasa feodal, atau bahasa yang kolot, tidak modern atau ketinggalan zaman, bahasa yang sudah lama bahkan ditinggalkan, atau bagi pengguna bahasa bali yang demikian cenderung ditanggapi negative, yaitu “dengan menggunakan bahasa bali, diartikan orang tersebut ingin selalu dihormati oleh orang lain,” oleh para pendengarnya di kehidupan masyarakat.
            Salah satu yang menyebabkan bahasa Bali dikatakan bukan bahasa feodal dapat dilihat dari sejarah kebudayaan penutur Bahasa Bali. Bahasa Bali digunakan untuk menunjukkan identitas penuturnya, dalam hal ini adalah untuk menunjukkan identitas etnik Bali.
            Disamping itu pula bahwa penggunaan tingkat tutur (sor-singgih basa) dapat juga berfungsi sebagai sarana edukasi dalam melatih manusia, khususnya kaum muda, memperhatikan status sosial dan menghormati manusia lain serta memupuk kerendahan hati yakni kejujuran terhadap adanya perbedaan sosial antar manusia, bukan feodalis. Sebagaiman diketahui bahwa bahasa Bali memiliki sistem silabik (pola pesukuan) seperti bahasa-bahasa lainnya misalnya bahasa Sunda, bahasa Jawa, bahasa Madura, dan yang lainnya. Disamping itu, dalam pemakaianya bahasa Bali memiliki variasi yang disebut dialek. Dialek ini lebih mengarah pada kebiasaan penuturnya menurut kedaerahannya, sehingga dikenal dengan dialek geografi.
            Maka dari itu perlu adanya kiat-kiat serta usaha dari segenap masyarakat bali untuk senantiasa melestarikan budaya sekaligus apa yang menjadi ciri khas bali itu sendiri yang dikenal oleh banyak orang sebagai kebanggaan tanah air yang mempunyai pulau dengan keindahan panorama alam, kesenian budaya, karya sastra yang luar biasa, sekaligus bahasa yang menjadi khas masyarakat bali yang sebagai warisan leluhur dari jaman-ke jaman.



BAB III
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
Dari pembahasan diatas tentang bahasa Bali, kami dapat menyimpulkan bahwa fungsi bahasa Bali yaitu: sebagai lambanng kebanggan daerah dan masyarakat Bali, sebagai lambing identitas daerah dan masyarakat Bali, sebagai alat penghubung didalam keluarga dan masyarakat Bali, sebagai pendukung sastra daerah serta bahasa Bali merupakan sebagai sarana pendukung budaya daerah dan budaya nasional Indonesia.
            Sedangkan bahasa Feodal adalah bahasa yang dianggap sebagai bahasa yang kolot, yang sudah lama ditinggalkan dan tidak modern lagi, serta bagi pengguna bahasa tersebut, diartikan mereka ingin selalu dihormati.
Dikatakan bahasa Bali bukan bahasa feodal karena bahasa Bali adalah :
1.                  Bahasa yang etnik merupakan bahasa yang mempunyai nilai-nilai etika, dan keunikan tersendiri
2.                  Merupakan suatu ilmu tata wicara / berbicara (bahasa daerah) yang memiliki systematika baik dari segi penlafalan dan aksara (mempunyai system syllabic) sebagai alat komunikasi bagi masyarakat bali pada khususnya.
3.                  Penggunaan Bahasa Bali dengan memperhatikan Sor-Singgih Basa Bali ini mencerminkan identitas dan status social diantara mereka sebagai pembicara dan lawan biacara. Dan sekaligus berfungsi sebagai sarana edukasi dalam melatih manusia, khususnya kaum muda hindu bali, memperhatikan situasi social, dan saling menghormati serta memupuk kerendahan hati yakni kejujuran terhadap adanya perbedaan social masyarakat.


3.2       Saran
Demikian pemaparan dari makalah kami, semoga bermanfaat bagi pembaca terutama untuk mengetahui tentang Bahasa Bali bukanlah bahasa feodal. Tentu makalah ini jauh dari sempurna maka dari itu kami mohon pada pembaca untuk menyumbang kritik dan saran yang bersifat membangun. Agar dikemudian hari jika membuat suatu karya ilmiah berupa makalah bisa lebih baik dan lebih sempurna lagi.
                       



DAFTAR PUSTAKA

http://www.nedirnedemek.com/feodal-sistem-nedir-feodal-sistem-ne-demek
Tim Penyusun, 1990. Kamus Bali-Indonesia. Dinas Pendidikan Dasar Provinsi Daerah Tingkat I Bali.
Tinggen, I Nengah. 2001. Kosa Basa Sor-Singgih Basa Bali. Rhika Dewata.
Sutama, I Made. 2006. “ Selamat Dalam Himpitan Waktu; Upaya Menumbuhkan Keterampilan Berbahasa Bali dalam Dua Jam Pelajaran” Makalah Yang Disajikan dalam Kongres Bahasa Bali VI di Denpasar, 10-13 Oktober  2006.

Tim Penyusun. 2007. “Sor-Singgih Basa Bali Ke-Bali-an Manusia Bali Dalam Dharma Papadikan, Pidarta Sambrama Wacana dan Dharma Wacana”   (Sebuah Renungan unntuk Perhatian).

Selasa, 02 Juli 2013

65 Model Pembelajaran Inovatif

Macam-Macam model pembelajaran PAIKEM dijabarkan sebagai berikut:
1. Koperatif (CL, Cooperative Learning).
Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembegian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih berinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.

2. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif - nyaman dan menyenangkan. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.

Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara).
3. Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)
Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip, algoritma, aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio, pengemabngan mateastika).
Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis, realitas (kebermaknaan proses-aplikasi), pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi, informal ke formal), inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep), interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan bimbingan (dari guru dalam penemuan).

4. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)
Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).

5. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)
Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal.
Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri

6. Problem Solving
Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, atau algoritma). Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas, siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan, siswa mengidentifkasi, mengeksplorasi,menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan solusi.

7. Problem Posing
Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing, yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.

8. Problem Terbuka (OE, Open Ended)
Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.
Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitakkan dengan materui selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).
Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat reson siswa, bimbingan dan pengarahan, membuat kesimpulan.

9. Probing-prompting
Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.
Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mngurang kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi

10. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning)
Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat, eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan, dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda.

11. Reciprocal Learning
Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal, yaitu bagaimana siswa belajar, mengingat, berpikir, dan memotivasi diri. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna, merangkum, bertanya, representasi, hipotesis.
Untuk mewujudkan belajar efektif, Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal, yaitu: informasi, pengarahan, berkelompok mengerjakan LKSD-modul, membaca-merangkum.

12. SAVI
Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan penndepat, dan mennaggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunbakan media dan alat peraga; dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.

13. TGT (Teams Games Tournament)
Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. SDetelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah , lembut, santun, dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas.
Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan, atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Sintaknya adalah sebagai berikut:
a. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan
b. Siapkan meja turnamen secukupnya, missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok.
c. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior, very good, good, medium.
Bumping, pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga-keempat dst.), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama, begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama.
e. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual, berikan penghargaan kelompok dan individual.
14. VAK (Visualization, Auditory, Kinestetic)
Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas, dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih, mengembangkannya. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI, dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic.
15. AIR (Auditory, Intellectualy, Repetition)
Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK, bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis.
16. TAI (Team Assisted Individualy)
Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver, 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi.
Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul, (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual, saling tukar jawaban, saling berbagi sehingga terjadi diskusi, (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif.

17. STAD (Student Teams Achievement Division)
STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif, sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward.

18. NHT (Numbered Head Together)
NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan beri reward.

19. Jigsaw
Model pembeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. Pengarahan, informasi bahan ajar, buat kelompok heterogen, berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok, tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu, tuiap kelompok bahan belajar sama, buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi, kembali ke kelompok aasal, pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

20. TPS (Think Pairs Share)
Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal, berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs), presentasi kelompok (share), kuis individual, buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.

21. GI (Group Investigation)
Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan, buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas, rencanakan pelaksanaan investigasi, tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas, misal mengukur tinggi pohon, mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah, jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah, banyak guru dan staf sekolah), pengoalahn data penyajian data hasi investigasi, presentasi, kuis individual, buat skor perkem\angan siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.

22. MEA (Means-Ends Analysis)
Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic, elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana, identifikasi perbedaan, susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas, pilih strategi solusi.

23. CPS (Creative Problem Solving)
Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan, identifikasi permasalahan dan fokus-pilih, mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi, presentasi dan diskusi.

24. TTW (Think Talk Write)
Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternative solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan kemudian buat laopran hasil presentasi. Sinatknya adalah: informasi, kelompok (membaca-mencatatat-menandai), presentasi, diskusi, melaporkan.

25. TS-TS (Two Stay – Two Stray)
Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. Sintaknya adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok, laporan kelompok.
26. CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)
Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep, (0) organisasi ide untuk memahami materi, (R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali, (E) mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan menemukan.

27. SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)
Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa, yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksama-cermat, dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatat-menandai kata kunci, Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana, darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar), Read dengan membaca teks dan cari jawabanya, Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama), dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh

28. SQ4R (Survey, Question, Read, Reflect, Recite, Review)
SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect, yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan.

29. MID (Meaningful Instructionnal Design)
Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitif-konstruktivis. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman, analisi pengalaman, dan konsep-ide; (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar;
(3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep

30. KUASAI
Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini, Kerangka pikir untuk sukses, Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar, Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai), Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya, Ajukan pengujian pemahaman, dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar.

31. CRI (Certainly of Response Index)
CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer, 1 untuk amost guest, 2 untuk not sure, 3 untuk sure, 4 untuk almost certain, dn 5 untuk certain.

32. DLPS (Double Loop Problem Solving)
DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut.
Sintaknya adalah: identifkasi, deteksi kausal, solusi tentative, pertimbangan solusi, analisis kausal, deteksi kausal lain, dan rencana solusi yang terpilih. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal, mengelompokkan gejala, menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi, mengidentifikasui kausal, imoplementasi solusi, identifikasi kausal utama, menemukan pilihan solusi utama, dan implementasi solusi utama.

33. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)
DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan, penggunaan, dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Sintaksnya adalah: persiapan, pendahuluan, pengemabangan, penerapan, dan penutup.

34. CIRC (Cooperative, Integrated, Reading, and Composition)
Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang, guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar, siswa bekerja sama (membaca bergantian, menemukan kata kunci, memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi hasil kelompok, refleksi.

35. IOC (Inside Outside Circle)
IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan, 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar, separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam, siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan, siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya, dan seterusnya.

36. Tari Bambu
Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama, siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan, siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya, dan kembali berbagai informasi.

37. Artikulasi
Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi, sajian materi, bentuk kelompok berpasangan sebangku, salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian, presentasi di depan hasil diskusinya, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan.

38. Debate
Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan, siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok, sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian, guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu.

39. Role Playing
Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut, pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok, bimbingan penimpoulan dan refleksi.

40. Talking Stick
Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat, sajian materi pokok, siswa mebaca materi lengkap pada wacana, guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru, tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya, guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi.

41. Snowball Throwing
Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum, membentuk kelompok, pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok, bekerja kelompok, tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain, kelompok lain menjawab secara bergantian, penyuimpulan, refleksi dan evaluasi

42. Student Facilitator and Explaining
Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian materi, siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya, kesimpulan dan evaluasi, refleksi.

43. Course Review Horay
Langkah-langkahnya: informasi kompetensi, sajian materi, tanya jawab untuk pemantapan, siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak, guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak, siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya, pemberian reward, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

44. Demonstration
Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. Langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian gambaran umum materi bahan ajar, membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok, menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya, dikusi kelas, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

45. Explicit Instruction
Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma-prosedural, langkah demi langkah bertahap. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi, mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural, membimbing pelatihan-penerapan, mengecek pemahaman dan balikan, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

46. Scramble
Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar, buat kartu jawaban dengan diacak nomornya, sajikan materi, membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban, siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok.

47. Pair Checks
Siswa berkelompok berpasangan sebangku, salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan, pengecekan kebenaran jawaban, bertukar peran, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

48. Make-A Match
Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya, setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya, setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward, kartu dikumpul lagi dan dikocok, untuk badak berikutnya pembelajaran seperti babak pertama, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

49. Mind Mapping
Pembelajaran ini sangat cocok untuk mereview pengetahuan awal siswa. Sintaknya adalah: informasi kompetensi, sajian permasalahan terbuka, siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn, presentasi hasuil diskusi kelompok, siswa membuat kesimpulan dari hasil setiap kelompok, evaluasi dan refleksi.

50. Examples Non Examples
Persiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi, sajikan gambar ditempel atau pakai OHP, dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, valuasi dan refleksi.

51. Picture and Picture
Sajian informasi kompetensi, sajian materi, perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi, siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik, guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut, guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.

52. Cooperative Script
Buat kelompok berpasangan sebangku, bagikan wacana materi bahan ajar, siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman, sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi, bertukar peran, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.

53. LAPS-Heuristik
Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya, adakah alternative, apakah bermanfaat, apakah solusinya, dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. Sintaks: pemahaman masalah, rencana, solusi, dan pengecekan.

54. Improve
Improve singkatan dari Introducing new concept, Metakognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulty, Obtaining mastery, Verivication, Enrichment. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep, siswa latian dan bertanya, balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi.

55. Generatif
Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi, pengungkapan ide-konsep awal, tantangan dan restruturisasi sajiankonsep, aplikasi, ranguman, evaluasi, dan refleksi

56. Circuit Learning
Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus, siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus, Tanya jawab dan refleksi

57. Complete Sentence
Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap, sampaikan kompetensi, siswa ditugaskan membaca wacana, guru membentuk kelompok, LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap, siswa berkelompok melengkapi, presentasi.

58. Concept Sentence
Prosedurnya adalah penyampaian kompetensi, sajian materi, membentuk kelompok heterogen, guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar, tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci, presentasi.

59. Time Token
Model ini digunakan (Arebds, 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi, tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit), siswa
berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon, setelah selesai kupon dikembalikan.

60. Take and Give
Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks, siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa - bahan belajar - dan nama yang diberi, informasikan kompetensi, sajian materi, pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu, dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian, evaluasi dan refleksi

61. Superitem
Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkat-bertahap dari simpel ke kompleks, berupa opemecahan masalah. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi, berikan latihan soal bertingkat, berikan sal tes bentuk super item, yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi, integrasi, dan hipotesis.

62. Hibrid
Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori, koperatif-inkuiri-solusi-workshop, virtual workshop menggunakan computer-internet.

63. Treffinger
Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan, penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill, proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minat-kuriositi-tanya, kelompok-kerjasama, kebebasan-terbuka, reward.

64. Kumon
Pembelajaran dengan mengaitkan antar konsep, ketrampilan, kerja individual, dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. Sintaksnya adalah: sajian konsep, latihan, tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai, jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi, lima kali salah guru membimbing.

65. Quantum
Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Guru harus menciptakan suasana kondusif, kohesif, dinamis, interaktif, partisipatif, dan saling menghargai. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna, semua mempunyai tujuan, konsep harus dialami, tiap usaha siswa diberi reward. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak, alami-dengan dunia realitas siswa, namai-buat generalisasi sampai konsep, demonstrasikan melalui presentasi-komunikasi, ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman, dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan.
Rumus quantum fisika asdalah E = mc2, dengan E = energi yang diartikan sukses, m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi), c = communication, optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal.
Diposkan 9th December 2010 oleh Silvia Fransisca Sukma