Selasa, 04 Juni 2013

ANALISIS GEGURITAN SUCITA



BAB I
PENDAHULUAN


1.1              LATAR BELAKANG

Di era globalisasi ini, sering kita melihat bahwa banyak hal, yang telah mengalami kemajuan baik itu di bidang informasi, komunikasi, kebudayaan dan bahkan tekhnologi serta berbagai dampak perubahan dari efek moderenisasian yang menjadikan rasa ketertarikan dan pengaruh besar bagi semua orang. Akibat masuknya pengaruh tersebut, membuat beberapa budaya kedaerahan menjadi terakulturasi dibuatnya. Yaitu adanya suatu campuran budaya yang masuk akibat adanya moderinisasi jaman sekarang.
Khususnya di Bali. Bali merupakan pulau yang terkenal dengan budaya yang kental dengan system adatnya yang sangat menarik perhatian bagi semua orang , karena bali itu sendiri berakarkan dari agama hindu yang memiliki nilai kespiritualan tinggi , sehingga menjadikan pulau bali memiliki ketertarikan tersendiri. Dilihat dari seni budayanya, kreatifitas para masyarakat bali, keindahan pulau bali dan yang lebih penting lagi adalah bahasa bali serta berbagai karya sastra bali , sangatlah perlu dilestarikan keberadaannya. Sebab bukannya kita terlalu berfikir panatik dengan adanya pengaruh budaya luar dengan pemodernisasian, tetapi perlu kita memilih dan memilah secara positif dari pemodernisasian di jaman sekarang ini.
Maka dari itu perlu adanya kiat-kiat serta usaha dari segenap masyarakat bali untuk senantiasa melestarikan budaya sekaligus apa yang menjadi ciri khas bali itu sendiri yang dikenal oleh banyak orang sebagai kebanggaan tanah air yang mempunyai pulau dengan keindahan panorama alam, kesenian budaya, karya sastra yang luar biasa, dan lain sebagainya. Usaha yang dilakukan adalah salah satunya, dimulai dengan rasa kesadaran dari masing-masing masyarakat bali itu sendiri yang sebagai orang bali harus mempertahankan citra bali sebagai  pulau yang memiliki kebanggaan bagi tanah air kita.
Salah satu yang harus perlu dilestarikan adalah ditinjau dari bentuk karya sastra bali itu sendiri. Para masyarakat bali dan sekaligus pemuda bali harus menyadari bahwa keberadaan karya sastra bali terutama karya sastra bali yang terbentuk dari kesusastraan bali lama atau kuno tersebut telah mengalami banyak perubahan yang ditinjau dari segi keberadaan, informasi dan lainnya. Ini disebabkan karena akibat adanya modernisasi yang masuk.
Disini keberadaan sastra lama masih awam diperkenalkan oleh kaum sastrawan bali pada pemuda bali dan masyarakat bali itu sendiri. Disini saya menganalisis sebuah Geguritan SUCITA, dimana geguritan adalah termasuk jenis karya sastra lama bali yang berupa rangkaian cerita berpengantar pupuh. Pupuh merupakan bagian dari sekar alit yang sebagai nyanyian bali atau tembang bali yang menggunakan bahasa kepara digunakan dalam mengungkapkan rasa jiwa / bhatin dalam diri sesuai dengan keadaan dan cerita yang disampaikan, dan secara sistematisnya pupuh menggunakan aturan yaitu pada lingsa. Pupuh itupun mempunyai banyak jenis yaitu pupuh maskumambang, mijil, durma, dangdanggula, ginada, ginanti, pangkur, pucung, semarandana sinom, dll. Bagi apara generasi muda hindu di bali yang patut melestarikan keberadaan karya sastra lama bali yang salah satunya adalah Geguritan ini sangatlah awam, karena terbatasnya informasi dan keterbenturan dengna budaya modernisasi yang berkembang secara kompleks. Maka dari itu , disini saya akan memperkenalkan suatu contoh Geguritan SUCITA I,II, dan III .

1.2              RUMUSAN MASALAH

1.      Apakah yang disebut dengan Geguritan?
2.      Siapakah pengarang Geguritan SUCITA I,II dan III ?
3.      Bagaimana Jalan Cerita Geguritan SUCITA I, II, dan III?
4.      Apa sajakah pupuh yang digunakan dalam Geguritan SUCITA I, II dan III?
5.      Bagaimana penokohan dalam Geguritan SUCITA I,II dan III?
6.      Bagaimana pupuh yang digunakan dalam geguritan tersebut?

1.3              TUJUAN

Adapun tujuan saya menganalisis isi dari geguritan SUCITA I, II dan III adalah

1.      Menambah pengetahuan dari geguritan yang dianalisis
2.      Melestarikan keberadaan geguritan dengan membuat makalah ini
3.      Memberikan informasi kepada pembaca tentang geguritan sucita
4.      Memperkenalkan jenis karya sastra lama bali kepada pembaca
5.      Mengapresiasikan jenis karya sastra lama dengan mengetahui pupuh yang digunakan dalam geguritan yang dianalisis.


1.4              MANFAAT
Adapun manfaat dari menganalisis isi geguritan SUCITA I, II dan III adalah

1.      Mengetahui bagaimana jalan cerita Geguritan yang dianalisis
2.      Mengetahui bagaimana penokohan dalam Geguritan tersebut
3.      Mengetahui bagaimana nilai – nilai yang terkandung dalam geguritan tersebut
4.      Mengetahui susunan pupuh yang digunakan sebagai tembang dalam geguritan
5.      Dapat diaplikasikan dengan menyalurkannya sebagai bahan informasi kepada khalayak umum tentang keberadaan sastra bali  lama yang salah satunya yaitu Geguritan.










BAB II
       PEMBAHASAN                 

2.1     Pengertian Geguritan

            Geguritan merupakan sastra kuno yang memiliki ciri sastra lama atau klasik yang berifat anonim yaitu tanpa nama pengarang dan penulis. Ini disebabkan karena pada zamanya dibuat seorang penulis tidak mau menonjolkan diri dan karyanya dianggap milik bersama.
Kata geguritan dalam kamus Bali – Indonesia berasal dari kata “gurit artinya gubah, karang, sadur “, dan dalam Kamus Umum Indonesia dijelaskan “geguritan itu berasal dari kata gurit artinya sajak atau syair”. Sedangkan dalam Kamus Kawi Indonesia diungkapkan “gurit artinya goresan, dituliskan”.
Ciri yang kental di dalam sebuah geguritan adalah adanya pupuh-pupuh yang membentuk geguritan tersebut seperti : pupuh pucung, durma, sinom, pangkur, smarandhana, dandang, ginada, dan demung. Oleh karenanya di dalam menikmati geguritan dengan membacanya tidak bisa disamakan dengan membaca karya sastra yang tergolong prosa.
Geguritan hendaknya dinikmati dengan membaca sambil melagukan sehingga nikmat yang didapatkan semakin merasuk kalbu. Karya sastra yang berwujud pupuh diikat oleh aturan yang disebut : pada lingsa, pada dan carik. “syarat-syarat yang biasa disebut (pada lingsa) yaitu banyaknya baris dalam tiap bait (pada) banyaknya suku kata dalam tiap-tiap baris (carik) dan bunyi akhir tiap-tiap baris”
Berdasarkan pandangan di atas maka pengertian geguritan adalah ciptaan sastra berbentuk syair yang biasanya dilagukan dengan tembang (pupuh) yang sangat merdu. GEGURITAN, yang merupakan salah satu bentuk prosa Bali yang terikat perpajakan pupuh, dalam khazanah sastra tradisional dikategorikan sebagai sekar alit (bunga kecil).
Untuk memahami alam pikir dan dunia imajinasi manusia Bali, jalan terbaik adalah dengan membaca karya-karya geguritan, bukan karya-karya kakawin. Di samping karena bahasanya adalah bahasa pribumi yaitu Bahasa Bali (bukan bahasa import: Jawa Kuna), yang memungkinkan pengarang Bali berekspresi secara maksimal, geguritan tampil dengan menyuguhkan berbagai pengalaman bathin manusia Bali dengan spektrum yang tak terbatas: Rasa lapar, suka-duka, merana cinta, puji-puji, dongeng-dongeng, kehancuran perang, candu, zinah, kelaliman raja, kebodohan raja, perselingkuhan, mitrologi, hantu dan berbagai makhluk dari alam lain, tata ruang dan arsitekstur, masyarakat multikultur, dewa-dewi, ilmu hitam-putih, etika, tata krama, kecerdasan dan kedunguan, dalil filsafat dan kenaifan manusia, mantra dan kutukan, petuah-petuah dan umpatan; semuanya bisa menjadi bahan baku untuk ''adonan'' geguritan. Tak ada satu ''ideologi'' yang ''menghegemoni'' geguritan.

2.2.      Jalan Cerita Geguritan Sucita
            Ada sebuah cerita. Yang menceritakan sebuah kerajaan yang sangat agung atau besar dan terkenal. Kerajaan tersebut sangatlah cinta damai dengan sistem tata peraturan kerajaan yang membuat para rakyat beserta aparatur kerajaan berjalan sesuai dengan rencana dan tujuan yang diinginkan yang dilandaskan swadharma sebagai umat yang beragama.
            Para rakyat yang ada di kerajaan sangat menghormati tata peraturan kerajaan (Asta Kosala), selain menjungjung tinggi rasa kekeluargaan dan melaksanakan titah serta apa yang menjadi peraturan di kerajaan. Kekompakan akan terselenggaranya sistem kerajaan yang sesuai dengan rencana tujuan yang diinginkan. Serta bangunan kerajaan yang megah kelihatan asri karena para rakyat yang menjaga keasrian dan lingkungan kerajaan tersebut.
            Disebutkanlah disini Ida Sang Sucita, melaksanakan tapa brata disaat bulan purnama. Tanpa disadari, tapa  Ida Sang Sucita didengar oleh Ida Sang Kalih , maka bersabdalah beliau “ Ida Sang Sucita,disini aku akan memberikan sebuah nasihat dengan petuah yang berguna bagimu nanti. Agar kamu bias memilih yang mana dinamakan Rwa Bineda sesuai dengan tata prilaku dalam menjalani segala bentuk kehidupan didunia” . seperti itulah Beliau bersabda kepada Sang Sucita. Setelah melakukan tapa brata sang sucita merasa ingin lebih banyak memperoleh suatu petuah yang nanti akan berguna bagi dirina. Maka dari itu dia berkelana mencari apa yang dia inginkan.
            Disini, sang sucita mempunyai saudara yang bernama Sang Subudi. Sang sucita mengajak Sang subudi berkelana untuk mencari sesuatu hal yang mereka inginkan. Dikisahkan, mereka memasuki tempat pesraman, disana mereka bertemu dengan Sang Guru yang bernama Ida Rsi Satwika. Disana, Sucita dan Subudi, memdapat pengayoman dari Mpu Satwika mengenai basa basita (tata cara berbicara dalam kehidupan ). Beliau berkata kepada sucita dan subudi, bahwa tujuan datang kemari, ingin mendapatkan petuah yang berguna nanti apabila sucita sudah beranjak dewasa menjalani kehidupan. Salah satunya adalah pertama, tidak boleh berbuat tidak iklas terhadap sesama dalam artian harus sesuai dengan ketulusan dari dalam diri supaya kita bisa berlaku bijaksana dan agar tidak saling bertolakbelakang untuk mendapatkan sesuatu yang kita harapkan atau kebaikan itu sendiri yang berlandaskan Tri Kaya  Parisudha (yaitu berpikir yang baik, berkata yang baik, dan berlaksana yang baik pula). Yang kedua adalah mengenai tingkat Grahastha yaitu tata cara untuk menyunting seorang istri ketika mau menginjak tahap pendewasaan diri dengan mengalami masa berumah tangga (Grahastha) dan yang lebih penting yang  harus diutamakan adalah terdapat di Lontar Cumbana Sasana disana mengatakan bahwa, untuk mengetahui beberapa hal dalam bagaimana menjalani kehidupan, butuh tiga tahun lamanya untuk belajar  mengenal makna hidup di dunia ini. Mengenai Tri Kaya Parisudha, tentang cara  berpikir, berkata, dan berlaksana haruslah diperhatikan dengan sadar diri. Itulah pembekalan yang diberikan Mpu Satwika kepada Sang Sucita dan Sang Subudi.
            Disana sang sucita dan subudi juga mendapatkan pengetahuan (Widya) mengenai Catur Varga ( empat tujuan hidup manusia yang saling berkaitan erat satu sama lain) yang bagiannya adalah Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Sejak saat itu sang sucita dan sang subudi merasa tahu dan tambah pelapan dalam menjalani kehidupan di dunia.
Disini kemudian diceritakan dalam perjalanan sang sucita dan sang subudi yang sesudah sampai di ujung kayu,didapatlah tempat persemayaman ida sang yaksa kemudian didengar oleh gajah warak,yang ikut juga ada disana. Sudah dekat menuju jalan keluar ,Sang Subudi akhirnya berkata kepada Sang Yaksa,” mengapa kamu berdiam diri disana? Seperti kamu bertingkah menginginkan sebuah Mantra Sakti” kemudian sang hyang siwa budi tiba-tiba datang dalam kesepian . kemudian Sang Subudi menyambut kedatangan beliau dengan senyuman hangat dan berkatalah beliau” duh… sang yaksa, ini cucu mu datang. Sekarang ingin menyampaikan sebuah pesan dan baik-baiklah kamu sehingga semua dapat dikendalikan dengan tujuan baik. Agar tidak kamu melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan tata agama susila. Kama, Artha dan kedudukan itu seharusnya dipergunakan dengan baik , sehingga nanti dapat menghasilkan suatu ketenangan dalam hidup di dunia. Begitu pula , apabila Arta yang didapat harus didapat dan difungsikan dengan dharma itu sendiri.Purusa dan Pari kosa sangatlah di perhatikan baik-baik pengrealisasiannya untuk menjalani kehidupan ini. Seperti itulah kasujatiannya.
Kemudian sang subudi berkata menambah apa yang disampaikan oleh beliau” jika kehidupan ini seperti apa yang dikatakan olehmu, sangatlah gampang untuk bisa menaklukan sifat keangkuhan tersebut, untuk menjadikan kepribadian yang utama. Yang dinamakan Prasaka itu adalah mempunyai pikiran , mempunyai tujuan dan mempunyai budi / prilaku baik. Itu sebenarnya .”
Sekarang, diceritakan adanya seorang raksasa yang memiliki  prawakan sangat menakutkan yaitu,bersaput poleng, susunya panjang dan pusarnya menjorok keluar . seperti itulah perawakan sang raksasa tersebut. Kemudian sang subudi berkata kepada sang yaksa, bahwa janganlah mengingkari angkara itu . hal itu tidak baik untuk dilakukan, semoga  kamu memperoleh apa yang menjadi tuntunan hidup menuju dharma.Diceritakan kemudian, sang raksasa mempunyai seorang istri dan mempuyai anak.
            Diceritakan sang sucita bertemu dengan seorang gadis cantik yang membuat sang sucita merasakan jatuh cinta kepada seorang gadis tersebut, karena keindahan paras nya. Gadis itu bernama Diah Karuni,  putri dari Diah Karmita dan Dukuh Pradnyan.
            Sesudah dia bertemu dengan diah karuni, sang sucita merayu diah karuni, taler sang diah karuni memiliki saudara yang bernama sang sugata. Diceritakan sang sucita dan diah karuni saling kasmaran dengan jatuh cinta dengannya. Di sana sang sucita juga diberi nasihat oleh ayah sang diah karuni “ pemuda baik sang sucita, jatuh cinta itu wajar dengan lawan jenis, tetapi jaga baik-baik rasa cintamu itu kepada sang diah karuni.” Kemudian diah karuni pun berkata sesuatu kepada sang sucita,” sang sucita, terlalu cepat kita menyatakan saling  mencintai. Untuk mengetahui karakter masing-masing, sebaiknya kita berteman dahulu, sehingga apabila ada kecocokan diantara kita, kita lanjutkan hubungan ini secara serius.”
Diceritakan Sang Subudi dan Sang Sucita yang berkelana, kemudian dipanggil oleh sang Sugata,” Kemarilah sebentar untuk beristirahat,kemarilah dulu untuk saling bertukar pikiran, sehingga kita mendapatkan suatu pemecahan masalah yang bijak. “ Supaya sesuai dengan harapan ayahku, semoga terwujudkan ,”ibaratkan bagai sinar bulan purnama yang terang seakan  memberikan petunjuk”. Itulah kata Sang Meraga Nabe. Selanjutnya, banyak rintangan dalam hidup ini, dan itu patut dipelajari dalam menjalani kehidupan ini. Ada pesan Ayah kepadamu Sucita dan Subudi,” Jika Kalian sudah belajar banyak dan mengetahui pahit manisnya kehidupan, sebenarnya orang yang mengalami kesengsaraan itu berawal dari perbuatan yang tidak baik/adharma dan kebodohan yang juga menjadi penyebabnya. Disamping itu kepintaran dan pengetahuan itu harus diazah, pengetahuan yang luas harus dicari dan harus dijadikan sebagai pedoman, jangan kita menyia-nyiakan kesempatan dimasa muda, disamping itu, kita sebagai makhluk social juga harus  saling peduli dengan rasa kekeluargaan yang erat. Itulah yang perlu dimengerti.
            Kemudian Sang Sucita dan Sang Subudi melanjutkan perjalanan yaitu “Matirta Gama” . sebelum berangkat, Sang sucita berpesan kepada diah karuni” Janganlah dikau terlalu khawatir akan diriku”. Dan merekapun melanjutkan perjalanannya. Kemudian di dalam perjalanan , diceritakan sang sucita dan sang subudi sampai pada tengah hutan, disana mereka bertemu dengan I Busyet/ wanara petak yang bernama Diah Artati. Diah artati meminta bantuan kepada Sang Sucita dan Sang Subudi , dan sekaligus mengucapkan terima kasih sehingga anaknya dapat terbebaskan dari penjara Kaki Yaksa. Anak I Busyet itu bernama I karbusa, Ibunya bernama Wulati.
            Lanjut cerita, dewa  jik namanya mempunyai banyak prajurit yang sangat hormat dan berbakti kepada beliau. Dewa jik mempunyai satu orang anak perempuan yang bernama Yaksa Srenggi. Diceritakan Sang Durgati ingin meminang anakya, dengan cara bertarung melawan ayahnya. Sang Kalih dan Sang Wiku kemudian datang untuk melerai dan memberikan beberapa kata-kata bijak untuk menenangkan mereka. Diceritakan Sang Wiku ini tinggal di sebuah Kerajaan yang dengan penduduk damai dan tentram serta padat disebutlah Negara santika. Sang wiku melakukan Biksukha ke hutan dengan meninggalkan alam duniawi dan melakukan tapa brata ke hutan.
            Sang sucita dan Subudi mengucapkan terima kasih atas berbagai macam tatwa yang telah diberikan kepadanya.  Arti sujatinya, apabila kita menginginkan sesuatu dengan tulus ikhlas, niscaya akan dikaruniai oleh Hyang Maha Pencipta / Ida Shang Hyang Widhi Wasa. Berlandaskan Dharma dengan asih, susila, agar baik-baiklah menggunkannya. Jika sewaktu-waktu mengalami suatu mimpi buruk akan firasat sesuatu hal, jangan itu yang menyebabkan menjadi penghalang semata. Berpikir jernih itu kuncinya.


2.3.      Sejarah singkat mengenai biografi pengarang Ida Ketut Jelantik

           
            IDA KETUT JELANTIK adalah salah satu dari beberapa sastrawan asal Buleleng yang semasa hidupnya bekerja keras mempelajari tattwa atau darshana isi dari peradaban-batin Bali. Kebesaran namanya dapat disejajarkan dengan nama legendaris I Gusti Bagus Sugriwa, juga asal Buleleng, seorang Guru bagi banyak agamawan Bali sekarang.
            Siapakah Ida Ketut Jelantik itu? Sebagai manusia darah-daging ia lahir dan dibesarkan di Banjar Tegeha, Kecamatan Banjar, Singaraja. Ia meninggal pada 18 November 1961. Sebagai sastrawan ia telah 'menyumbangkan' sejumlah karya penting dalam khasanah sastra Bali. Beberapa karyanya antara lain Geguritan Sicita Subudi, Geguritan Lokika, Geguritan Bhagawadgita, satua Men Tingkas, dan sebuah buku tattwa berjudul Aji Sangkhya.
            Membicarakan Ida Ketut Jelantik sama menariknya dengan membicarakan karya-karyanya. Dan memang seperti itulah ciri orang-orang yang dalam hidupnya berkarya. Ada hanya batas tipis antara karya dengan yang berkarya. Seperti juga tipis batas antara pikiran dengan yang berpikir. Dalam tulisan kecil ini, akan dibicarakan salah satu karyanya, yaitu Aji Sangkhya. Karya ini sangat penting dalam rangka memahami konsep-konsep yang ada di balik pandangan-dunia Bali. Selain itu, juga penting karena pandangan dunia yang ada dalam Aji Sangkhya dapat menjelaskan dengan cukup sistematis sebagian besar upacara yang dilakukan di Bali.
            IDA KETUT JELANTIK menyusun naskah Aji Sangkhya, pada tahun 1947, dengan menggunakan bahasa Bali yang benar dan indah. Naskah itu, dan juga barangkali salinannya, berpindah tangan di kalangan peminat dan relasi tertentu saja. Selain karena ajaran yang ada dalam naskah itu tidak mudah bagi seorang pemula, juga karena situasi dan kondisi dunia penerbitan di Bali ketika itu masih jarang. Ia sendiri pada tahun itu menerbitkannya dalam bentuk buku yang masih sangat sederhana. Seperti sebuah anak panah, begitulah sebuah karya itu bisa diumpamakan. Begitu dilepas dari busur pengarangnya, anak panah itu tidak lagi ada dalam kendali pengarangnya. Buku sederhana Aji Sangkhya itu pun bergerak dan terus bergerak mencari dan menemukan muara-muaranya.
            Pada tahun 1950 seorang peneliti Belanda bernama C. Hooykaas menerjemahkan naskah itu ke dalam bahasa Belanda, dengan judul Changkhya Leer van Bali. Pada tahun 1972 ada seorang bernama Gde Sandhi, B.A. mengaku beruntung mendapatkan naskah Aji Sangkhya dari sejumlah naskah yang tertulis dalam bahasa Bali yang disusun oleh Ida Ketut Jelantik. Orang yang 'beruntung' itu kemudian membolak-balikkan naskah Aji Sangkhya itu untuk memahami apa yang dikatakan dan untuk mengerti apa yang dimaksudkan. Perjuangannya itu mengantarkannya pada satu kesimpulan untuk dirinya, bahwa isi naskah itu penting, bahkan sangat penting. Bukan hanya penting untuk dirinya, ia yakin bahwa isi naskah itu penting untuk orang Bali khususnya dan untuk umat Hindu umumnya.
Apa yang kemudian ia lakukan terhadap naskah itu? Beginilah pengakuannya.
            'Mengingat perkembangan Agama Hindu di Indonesia, di mana penganut-penganutnya kini telah tersebar luas di seluruh Indonesia, sedangkan buku-buku yang bersifat keagamaan masih banyak yang tertulis dalam bahasa daerah, khususnya Bahasa Jawa Kuno, maka untuk dapat mendalami ajaran Agama itu penyusun berusaha menterjemahkan Aji Sangkhya ke dalam Bahasa Indonesia, untuk mempermudah penganut-penganutnya dalam mempelajari Agamanya (....).' (revisi ejaan oleh penulis, IBM).
            Begitulah Gde Sandhi, B.A. kemudian mengerjakan alih bahasa Aji Sangkhya dari bahasa Bali ke bahasa Indonesia tak lama setelah ia 'beruntung' menemukan naskah itu. Dan setahun kemudian, 1973, buku berjudul Aji Sangkha diterbitkan oleh Dirjen Bimas Hindu dan Buddha. Bentuknya mungil seukuran buku saku. Terdiri dari 57 halaman. Dengan tata letak dan perwajahan sangat-sangat sederhana. Tanpa daftar isi, tanpa keterangan tentang penulis, tanpa daftar pustaka, dengan hanya sedikit kata pengantar dari penerjemah. Dan pengakuannya yang dikutip di atas, berasal dari kata pengantar itu. Pengakuan itu menarik diperhatikan karena mencerminkan semangat yang tinggi dan kecintaan luar biasa.
            Setelah dibuka dengan penjelasan tentang Cetana (unsur yang berkesadaran) dan Acetana (unsur tanpa kesadaran), buku Aji Sangkhya dimulai dengan Bab I Paramashiwa Tattwa (Shiwa yang sunya). Bab II Sadashiwa Tattwa (shiwa yang siddha-shakti), Bab III Shiwatma Tattwa (Shiwa yang wisesa, Atma).
            Purusa dan Pradhana Tattwa (Bab IV), Citta (Bab V), Buddhi (Bab VI), Ahangkara (Bab VII), Ekadasa Indriya dan Panca Tan Matra (Bab VIII), Panca Mahabhuta Tattwa (Bab IX), dan ditutup dengan penjelasan tentang tattwa Manusa (Bab X), serta lampiran struktur tattwa menurut pandangan Samkhyadarshana Bali.
            Dari mana Ida Ketut Jelantik mendapatkan sumber-sumber Tattwa yang disusunnya menjadi sangat sistematis itu?
            Pertanyaan tentang sumber adalah pertanyaan yang sah adanya. Sumber adalah referensi. Referensi adalah petunjuk ke mana kita mencari penjelasan lebih lanjut, dan juga ke mana kita mengecek 'kebenaran' sebuah pernyataan dan ulasan. Dan inilah sumber-sumber yang diacunya: Wrehaspatitattwa, Bhuwana Kosa, Tattwa Jnana, Brahmanda Purana, Panca Wingsati Tattw, Yoga Sutra, Nirmalajnana, Sang Hyang Dasatma, Catur Yuga Widhi Sastra, dan Sapta Bhuwana.
            Deretan judul Kitab-Kita acuan di atas adalah kelompok Kitab darshana yang tertua yang ditemukan di Bali. Para ahli yang mendalami bidang ini menyatakan bahwa kitab-kitab tattwa-darshana lainnya yang ditemukan di Bali adalah turunan dari kitab-kitab tua itu.
            Apakah Aji Sangkhya karangan Ida Ketut Jelantik adalah juga turunan dari kitab-kitab itu?
            Beberapa pengamat Bali pernah menyatakan bahwa Aji Sangkha adalah ringkasan dari isi kitab-kitab itu. Ada pula yang mengatakan bahwa Aji Sangkha adalah sistematisasi dari ajaran kitab-kitab sumber itu.
            Dan berikut inilah yang ingin saya katakan tentang buku Ida Ketut Jelantik itu. Seumpamannya ada sepuluh buku yang diacu Ida Ketut Jelantik, maka Aji Sangkhya adalah (menjadi) buku yang kesebelas. Bahwa ada beberapa buku yang mengilhaminya, dan diakuinya sebagai sumber, itu adalah masalah intertekstualitas, sebuah karya lahir karena ada banyak karya yang terlebih dahulu memasuki pikiran pengarangnya. Ida Ketut Jelantik adalah pengarang, bukan peringkas. Hanya saja dalam kasus Aji Sangkhya, kepengarangannya tidak semenonjol dalam karya-karyanya yang lain, seperti dalam Geguritan Sucita Subudi atau dalam Geguritan Lokika.


2.3.      Pupuh / Tembang yang digunakan menyangkut Pada Lingsa
           
            Kelompok Sekar Alit, yang biasa disebut tembang macapat, gaguritan atau pupuh, terikat oleh hukum Padalingsa yang terdiri dari guru wilang dan guru dingdong. Guru wilang adalah ketentuan yang mengikat jumlah baris pada setiap satu macam pupuh (lagu) serta banyaknya bilangan suku kata pada setiap barisnya. Bila terjadi pelanggaran atas guru wilang ini maka kesalahan ini disebut elung. Selanjutnya guru dingdong adalah uger-uger yang mengatur jatuhnya huruf vokal pada tiap-tiap akhir suku kata.
            Pelanggaran atas guru dingdong ini disebut ngandang. Tentang istilah macapat yang dipakai untuk menyebut jenis tembang ini adalah sebuah istilah dari bahasa Jawa.
           Kelompok tembang ini disebut tembang macapat karena pada umumnya dibaca dengan sistem membaca empat-empat suku kata (ketukan).
  Adapun jenis-jenis tembang macapat (pupuh) yang terdapat di Bali dan yang masih digemari oleh masyarakat, di antaranya adalah:

Pupuh Sinom
Sinom Lumrah
Pelog
Sinom Wug Payangan
Slendro
Sinom dingdong
Slendro
Sinom Sasak
Slendro
Sinom Lawe
Slendro
Sinom Genjek
Pelog
Sinom Silir
Slendro
Pupuh Ginada
Ginada Basur
Slendro
Ginada Linggar Petak
Slendro
Ginada Jayapura
Slendro
Ginada Bagus Umbara
Slendro
Ginada Candrawati
Slendro
Ginada Eman-eman/Bungkling
Pelog
Pupuh Durma
Durma Lumrah
Pelog
Durma Lawe
Pelog
Pupuh Dangdang
Dangdang Gula
Pelog
Pupuh Pangkur
Pangkur Lumrah
Pelog
Pangkur Jawa / Kakidungan
Slendro
Pupuh Ginanti
Ginanti Lumrah
Pelog dan Slendro
Ginanti Pangalang
Pelog dan Slendro
Pupuh Semarandana
Semarandana Lumrah
Pelog
Semarandana Mendut
Slendro
Pupuh Pucung
Slendro dan Pelog
Pupuh Megatruh
Laras Pelog
Pupuh Gambuh
Laras Pelog
Pupuh Demung
Laras Slendro
Pupuh Adri
Laras Pelog

Masing-masing pupuh yang tersebut di atas mengandung suasana kejiwaan yang berbeda-beda. Suasana yang ditimbulkan oleh pupuh tersebut sangat berguna untuk mengungkapkan suatu suasana dramatik dari suatu cerita / lakon.
Secara umum hubungan antara suasana dengan jenis pupuh dapat dilukiskan sebagai di bawah ini:
Suasana
Jenis Pupuh
aman, tenang, tentram
Sinom Lawe, Pucung, Mijil, Ginada Candrawati dan lain-lainnya
gembira, riang, meriah
Sinom Lumrah, Sinom Genjek, Sinom Lawe, Ginada Basur, Adri, Megatruh dan lain sebagainya
sedih, kecewa, tertekan
Sinom Lumrah, Sinom Wug Payangan, Semarandana, Ginada Eman-eman, Maskumambang, Demung dan lain-lainnya
marah, tegang, kroda
Durma dan Sinom Lumrah

Sekalipun demikian, pengaruh dari si penyanyi yang membawakan pupuh tersebut dapat mengubah suasana yang ditimbulkan oleh pupuh tersebut. Perlu pula diketahui bahwa kelompok tembang ini disebut pupuh adalah berdasarkan bagan atau kerangka lagu yang ada pada masing - masing pupuh ini. Berdasarkan isi atau cerita yang diungkapkan, jenis tembang ini juga di sebut Guritan menurut cerita yang dikandungnya. Guritan Sucita berarti tembang macapat yang mengungkapkan cerita Sucita. Begitu pula halnya Guritan Jayaprana, Sampik, Linggarpetak dan lain sebagainya. Bahasa yang dipakai dalam kelompok tembang macapat ini adalah bahasa Kawi (jawa Kuno) dan bahasa Bali.
Nama Pupuh
Jumlah suku kata dan huruf hidup akhir pada setiap baris kalimat tembang beserta nomor barisnya
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Sinom
8a
8i
8a
8i
8i
8u/o
8a
8i
12a
 
Ginada
8a
8i
8a
8u
8a
4i
8a
 
 
 
Pucung
4u
8u
6a
8i
12a
 
 
 
 
 
Maskumambang
4a
8i
6a
8i
8a
 
 
 
 
 
Ginanti
8u
8i
8a
8i
8a
8i
 
 
 
 
Durma
12a
8i
8a
8a
8i
5a
8i
 
 
 
Pangkur
8a
12i
8u
8a
12u
8a
8i
 
 
 
Semarandana
8i
8a
8o
8a
8a
8u
8a
 
 
 
Mijil
10i
6o
4e
10e
8i
6i
8u
 
 
 
Magatruh
12u
8i
8u
8i
8o
 
 
 
 
 
Demung
12a
8i
8u
8i
8a
8u
8a
8i
8a
8u
Dangdang
14a
14e
8u
8i
8a
8u
12a
8i
8a
 
Adri
12u
8i
8i
12u
8u
8a/e
8u
8a
8a
 
Berdasarkan hukum Padalingsanya tembang - tembang macapat Bali ini dapat disusun seperti tabel berikut ini:


BAB III
NILAI – NILAI YANG TERKANDUNG
DALAM GEGURITAN


3.1.      Nilai Agama
            Pengertian Nilai Agama
Nilai merupakan sesuatu yang abstrak, yang dijadikan pedoman serta prinsip – prinsip umum dalam bertindak dan bertingkah laku. Kumpulan sikap perasaan atau tanggapan , mengenai baik-buruk, mulia / hina, dan apakah itu patut dan tidak patut menurut hati nurani seseorang. Sedangkan nilai agama adalah suatu pandangan atau tanggapan sikap yang mengacu pada prilaku agama dengan berdasarkan konsep dan pedoman kepercayaan yang dianut oleh seseorang.
             
Sucita I

Bagian 17.      Pupuh Sinom
                        “Sajeroning itrikaya, tepetang da manyampahang, ditu Sang Hyang Tri                              Purusha, linggayang sembah baktinin, hidepang maraga jati, tunasin hidep                rahayu, anggon sarin Atma raksa. Sakalayang dina rarti, apang suluk, hidepe                twara bingbang”.

Teges               Keberadaan Tri Kaya Parisuda itu harus tepat digunakan dengan baik dan jangan meremehkan, disana Hyang Tri Purusa stanakan dengan sembah dan bakti dan utamakan kasujatian, pakailah dasar atma raksa baik siang dan malam. Dengan tujuan supaya tidak membingungkan pikiran.

Bagian 20       Pupuh Sinom
                        “Indik manyunang kurenan, liyu ngabe unduk rimbit, reh sanget ngawe sengkala. Yen iwang baan nindakin, munah turunan padidi, kadat utamane pangguh, mingkin ane madan gamya, ne ngawe letuhing gumi, sang prabu, yogya ida manyisipang.”

Teges               Tata cara menyunting seorang istri pada tingkat Grahastha, yang ada di bagian Catur asrama, yang harus berdasarkan lontar Cumbana Sasana, harus sering dibaca lontar itu, supaya pada waktu menyunting seorang istri digaris yang benar untuk sebagai pedoman yang direalisasikan di masyarakat.

Bagian 26       Pupuh Sinom
                        “Ento babagyan kaya, palinggan Hyang Brahma luwih,sabdane mapalih pat, mamunyi bangras impasin, misuna linyok kelidin, minakadi da mamisuh, ditu Hyang Wisnu maraga manah dadi telung bagi, sa-mangugu, salwiring gawe pacing mabwah.”

Teges               Sekarang dibagian trikaya yang menyebutkan memiliki arti , pikiran ( jangan terlalu sering berbohong dan memperdaya orang , disana Dewa Wisnu beristana), Laksana (kerakusan harus dihindari , agar tidak membuat kerusakan dari yang lainnya). Laksana (Jika berbicara yang baik dan benar, terhadap orang yang lebih tua .


3.2.                  Nilai Sosial
                        Pengertian Nilai Sosial
                        Nilai sosial adalah suatu tanggapan dari cerminan sikap perasaan seseorang yang mengacu pada sifat kekeluargaan, saling membutuhkan antar sesama, tolong-menolong, tenggang rasa, dan lainnya.

Bagian 41       Pupuh Sinom
                        “Bibit sayange pamula, apang kanti sida mentik, kenehe manulung anak, bani manesang dihati, ngalih ne anggon nulungin, mangda kasidan rahayu, tan takut manadi bela, matindih mangardi becik, ika tuhu, dharmaning sang budi satwa.”
 Teges              Bibir harus dijaga dalam stiap mengeluarkan kata-kata, menolong dan brani membantu tidak pilih kasih terhadap siapapun, pembela, membuat apa yang menjadi tujuan hidup yaitu kebahagiaan budi satwa”  Laksana yang bagus”.

3.3.                  Nilai Philosofi/Tatwa
                        Pengertian Nilai Philosofi
                        Nilai Philosofi adalah suatu kumpulan tanggapan dari cerminan sikap perasaan seseorang dengan mengacu pada suatu filsafat dalam menjalani suatu kehidupan / mengenai makna yang hakiki tentang topic pembicaraan yang dibicarakan.

Bagian 51       Pupuh Sinom
                        “Ne maadan Catur Varga, tegesnyane mangda kauningin, Dharma, Arta, Kama, Moksha. Pidartanya siki-siki, dharma silane luwih, tahu ring patuning hidup, tan mangimpasin pamongan, ngamong dharma sastra aji, sapatuduh, guru lan ratu da tulak.”

Teges               Catur Warga artinya, Dharma, Arta, Kama dan Moksha. Salah satu yang pertama adalah dharma” laksana yang bagus tepat dengan “swadharma”. Artha artinya mencari kekayaan harus dengan mestinya, kalau sudah artha terpenuhi, baru melaksanakan kama/ mencari istri. Moksa sesudah melalui beberapa tahapan tersebut dan jangan lupa diri, karena semua itu tidaklah kekal abadi , karena akan kembali ke asalnya supaya dalam keadaan bersih dikala mati, bertemu dengan-Nya dan capailah Moksa.

3.4.                  Nilai Budaya
                        Pengertian Nilai Budaya
                        Nilai Budaya adalah terdiri dari konsepsi – konsepsi yang hidup dalam alam fikiran dan sebagian besar warga masyarakat mengacu mengenai hal – hal yang mereka anggap amat mulia. Sistem nilai ini yang ada dalam suatu masyarakat dijadikan orientasi dan rujukan dalam bertindak. Oleh karena itu, nilai budaya yang dimiliki seseorang mempengaruhinya dalam menentukan alternatif, cara – cara, alat – alat, dan tujuan – tujuan pembuatan yang tersedia dari proses pembentukan suatu cipta karsa yang membudaya.

Bagian 6         Pupuh Sinom
                          Undagi pande lan tukang, asta kosala-kosali, akeh tan wenten pakirang, ngadeg mamarga malinggih, mapala hayu nyukanin, tur uning mamagi dauh, nginganin salwiring karya, sasolahan lan gong gending, tan kaitung, luwir ring indra buwana.”

Teges               Pande (tukang besi), asta kosala-kosali, banyak ada disini dan juga tari-tarian, gong (gamelan), seni suara (geguritan) jika diumpamakan disana menjadi satu kesatuan hingga seperti berada dalam Inra Buwana.

Sucita II

3.5.                  Nilai Susila
Bagian 2         Pupuh Sinom
                        “Dijagate twara ada, ane tan mobah ngawe bangkit, yan tetep twara melah, ngawe med manolegin, kadi surya yan upami, yan kalitepet satuwuk, bilih jagate ya rusak, kebus puun tan maludih, sangkan luwung, pakaryan Ida Hyang Titah.”

Teges               Didunia ini tidak ada, yang langgeng itu menyebabkan baik, bilamana langgeng tidak bagus, menyebabkan bosan yang berkepanjangan dan muak, diibaratkan panasnya sinar matahari selalu pada siang hari, sudah jelas dunia ini akan hancur akibat panas membara menjadikan hancur berkepi-keping, karena itu sangat bagus ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bagian 3         Pupuh Sinom
                                    “Sajeroning kebudayaan, sami mobah twara lepih, ne mapunduh dadi belas, ne pasha makumpul malih, tangan suku raga sami, ugi pasha pacing pungkur, tuwin sarira lan atma, tan wangde belas manadi,  salwir unduk twara ada tan maobah”

Teges               Sebenarnya, didalam kebahagiaan di dunia ini, semua itu berubah tidak ada sedikitpun yang menyatu itu menjadi pisah, kemudian yang pisah itu berkumpul lagi, ibaratnya seperti tangan, kaki, dan badan ini semua, sudah jelas besok akan terpisah. Kebenaran badan ini dengan jiwa , akhirbya akan menjadi pisah, segala masalah didunia ini tidak ada hal yang tidak berubah.”

3.6.                  Nilai Agama
Bagian 8         Pupuh Durma
                                    “Kabawosang, krana manggih suka duhka, solah deweke ngawinin, yan patut tingkahang, suka pacing temokang, ditelah sukane panggih, sakewala, nu solahe tindakin”

Teges               Diceritakan sebab menemukan  bahagia dan sengsara ini, perbuatan diri kita sendiri yang menyebabkan, jika perbuatan dharma dilaksanakan, bahagialah akan bertemu, setelah kebahagiaan itu ditemukan, kembalilah kesulitan / kesengsaraan itu akan ada.

Bagian 9         Pupuh Durma
                        “Yening hala duhka tan urung temokang, disuban duhkanne lisik, balik dadi suka, suba suka buwin duhka, keto nerus pacing panggih, sakewala, nu solahe tindakin.”

Teges               Jika perbuatan jahat / adharma dilaksanakan , bertemulah dengan kesengsaraan, setelah sengsara itu habis, kembali menjadi bahagia, setelah bahagia kembali sengsara begitulah seterusnya, akan seperti itu/ roda kehidupan, tetapi masih perbuatan itu kita lalui.

Bagian 67       Pupuh Ginanti
                        “Sarwa maurip puniku, manusa pinih utanma, sida ngawisesa jagatm, bisa makatang ne kaapti, sakala miwah niskala, sarwa tatwa miwah kaplajahin”.

Teges               Segala yang hidup di dunia ini, kehidupan sebagai manusialah yang paling utama, bisa menguasai dunia, bisa menemukan yang diinginkan seperti kehidupan di dunia dan akhirat , segala kesujatian itu bisa dipelajari.

Bagian 90       Pupuh Ginanti
                        “Ma-Tri Sandya, sanget luwung, cihna bakti ring Hyang Whidi, nunas ledang pangampura, saha ngicen sinar budi, dados papa mangda buyar, hidup mati molih linggih”.

Teges               Mengaturkan Tri Sandya sangat baik, merupakan cirri hormat kepada Tuhan Yang Maha Esa, mohon maaf dan minta petunjuk sebagai jalan terang pikiran ,supaya dikabulkan,dosa neraka supaya hilang, hidup dan mati mendapat tempat yang baik.

Sucita III

3.7.                  Nilai Sosial

Bagian 20       Pupuh Sinom
                        “Bisa ngalap tresnan anak, nyuksmyang tan bisa lali, saling tanjen jati sayang, ada ditu ada dini, ada dini ditu masi, saling jaga saling bantu, tan kanti ya kaleleran, nanging sami saking jati, rukun adung, disisi teked katengah.”

Teges               Siapapun yang mampu membalas pemberian orang mengucapkan terima kasih tidak pernah lupa, saling mempersembahkan rasa sayang, apa ada disana ada juga disini, ada disini juga ada disana, saling bela saling bantu, tidak menybabkan dia kesusahan, tapi semua berdasarkan keiklasan , selalu rukun lahir maupun bhatin.

Bagian 21       Pupuh Sinom
                        “Saling tulung ngawe melah, tan ada saling itungin, pang makatang gelah anak, uli aluh pang makisid, mula ditu dadi dini, twara nyak saling tan tuyuh, ne tan ngelah kotsahayang, ne ngelah ngiyet ngitungin, mangda durus, sami manggihin kalegan.”

Teges               Saling bantu untuk berbuat baik, tidak ada saling hitung, supaya mendapatkan milik orang, dari gampang supaya bisa berpisah semulanya disana menjadi disini, tidajk mau saling tidak kerja yang tidak mampu diusahakanm yang mampu berdasarkan semangat memikirkan, supaya menjadi semua menemukan kebahagiaan.



Bagian 1         Pupuh Sinom
“Sujati luwih utama, sang makatang enten hati, ne sida degdeg tan obah, duk ningeh ngadek ningalin, mangkin mangawinin becik, dyastu matemah             kewuh, manggeh  twara  tahen runtag, apan sampun  kraseng hati, hala hayu, mula tong dadi pasahang”

Teges                           Sebenarnya  sangat-sangat utama , siapapun yang bisa mendapatkan kesadaran dalam hati, yang bisa tetap dan tidak pernah  berubah / kuat, pada saat mendengarkan mencium dan melihat, apalagi yang menyebabkan bahagia, apalagi menjadi sulit tetap dan tidak pernah takut, oleh Karena sudah dirasakan oleh hatinya, baik buruk betul-betul tidak bisa dipisahkan.

Bagian 2         Pupuh Sinom
“Anake sapunika, lebih elah manggih becik, unadika lan upaya, lebih enggal ipun keni , apan nto katongosin, bahan galange puniku, makrana ne saru samar, pepes karasa dihati. Sangkan liu , utamane ditu bakat”.

Teges               Bagi Orang yang demikian , sangat gampanglah menemukan kbahagiaan itu bisa mengendalikan diri dan berusaha , lebih cepat dia mengena/ menyentuh , oleh karna itu ditempati oleh sinar atau jalan terang itu, oleh karena yang masih gelap/ renang-renang, sering bisa dirasakan dihatinya, oleh karna banyak sekali ke utaman itu bisa ditemukan disana



Inti Sari Dari Sifat Penokohan
Geguritan Sucita


                        Karya Ida Ketut Jlantik ini yaitu geguritan Sucita-Subudi, sangatlah menjadikan salah satu maha karya yang mengagumkan bahkan melebihi karya-karya geguritan lainnya. Dikatakan demikian karena di dalamnya memuat dalil-dalil falsafah /filsafat dan penjabaran sesuatu hal yang sangat “dingin”. Tentang kesedihan, umpamanya , dalam karya nya Ida Ketut Jelantik memuat “dalil” seperti ini “ ….jatin sengsara punika wetu saking tingkah pelih, pelih ipun saking ketambetan, tambet dadi dasar sedih. Tambete ngawinang lacur….”.  Selanjutnya masih dalam pupuh Ginanti VII . “ Tan pawates tan pa tanggu, kitane saha nagihin, yening tan wenten kasidan, sinah dadi sakit hati, ibuk sedih mangangsara ,masih tambet nasarin “. Dan masih banyak lagi yang menyebabkan geguritan ini menjadi pujaan dan pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia.












BAB IV
PENUTUP


KESIMPULAN DAN SARAN

            Setelah saya mengamati dan menganalisis geguritan sucita I,II, dan III dapat saya simpulkan bahwa, geguritan yang saya teliti ini bayak mengandung petuah-petuah yang berupa saran yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan sesuatu hal supaya memiliki control diri di dalam menjalani kehidupan di dunia. Dengan bijak, terarah sehingga dapat mencapai tujuan akhir yang mulia, “ Moksartham Jagadhita Ya Cha Iti Dharma “.

            Disini juga saya memberikan suatu saran, untuk lebih melestarikan keberadaan karya sastra bali , baik itu karya sastra bali lama dan karya sastra bali modern yang jaman sekarang mengalami banyak perkembangan. Tidak ada salahnya kita sebagai para generasi muda hindu bali yang memegang tonggak kokoh dari kebudayaan bali, untuk senantiasa ikut serta dalam program ajeg bali yang dalam realisasinya ikut menjaga dan melestarikan warisan leluhur kita yaitu dari segi bahasa, bentuk karya sastra lama, dan adat budaya yang unik sebagai cirri khas masyarakat bali pada umumnya.

            Mulai dari dalam diri kita sendiri dengan penuh rasa sadar dan “Mulat Sarira” . Menginterpretasikan apa yang menjadi budaya kita dan kewajiban kita sebagai para generasi muda hindu yang berlandaskan Dharma.

            Sekian yang dapat saya analisis dari Geguritan Sucita I.II dan III . semoga dengan terselesainya Ananlisis ini, dapat dijadikan suatu pedoman sebagaimana mestinya di hati pembaca dan pemeriksa. Apabila ada yang kurang berkenan, saya mohon maaf. Terima Kasih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar